Contoh Naskah Film Pendek

Contoh Naskah Film Pendek

Contoh naskah film pendek motivasi, sekolah, pendidikan, keluarga, dan komedi, diulas dalam tulisan singkat ini. Tentunya dengan beberapa uraian urutan adegan, dialog, tempat dan keadaan dengan durasi 5 sampai 30 menit.

Urutan dalam naskah tersebut disusun dengan konteks struktur yang dramatik.

Penulisan naskah film pendek dilakukan oleh script writer sebelum pembuatan film.

Nah, bagi script writer pemula, bisa mempelajari contoh naskah film pendek sebagai referensi penyusunan naskah film dengan berbagai tema.

Contoh Naskah Film Pendek Pendidikan

Judul : Sekolahku

Tokoh :

  1. Andi seorang anak berusia 17 tahun
  2. Ibu Andi
  3. Ayah Andi
  4. Taufik
  5. Pak Ilham

Sinopsis :

Andi merupakan seorang anak yang mempunyai harapan tinggi untuk melanjutkan sekolah ke jenjang SMK meskipun ia tinggal di sebuah desa. Faktor ekonomi keluarga yang serba kekurangan membuat Andi harus ikut bekerja menjadi buruh tani.

Suatu pagi saat Anda bekerja di sawah, ia melihat segerombolan pelajar berseragam lengkap hendak berangkat ke sekolah. Seketika itu, Andi berkhayal kapan ia bisa bersekolah seperti anak-anak tersebut.

Pada suatu sore ketika Anda akan pulang dari sawah, terlihat sekelompok orang berjalan berlawanan arah sambil membawa peralatan pertanian. Andi penasaran dan terus bertanya-tanya dalam hati.

Saat berpapasan dengan mereka, Andi justru di ajak bergabung. Ternyata mereka hendak menuju ke sekolah terbuka. untuk masyarakat tanpa batasan umur dan gratis. Pembelajaran di sekolah terbuka dilakukan sebanyak 3 kali seminggu yaitu pada sore hari.

Akhirnya Andi ikut bergabung bersama sekolah terbuka hingga akhirnya ia bisa berkuliah dan meraih cita-citanya selama ini.

Skenario :

1. Di halaman rumah saat pagi hari

Ayah Andi sedang menyiapkan peralatan untuk dibawa ke sawah.

2. Di sawah pada pagi hari

Andi membantu ayahnya bekerja di sawah lalu ia melihat segerombolan orang hendak pergi ke sekolah terbuka

Naskah :

Andi dan Ayahnya bersiap berangkat ke sawah

Ibu : Hati-hati ya Andi.

Andi : Iya bu (sambil bersalaman)

Andi dan ayahnya pergi ke sawah dan sesampainya di sawah, Andi langsung membantu ayahnya. Terlihat anak-anak berseragam mulai berangkat ke sekolah.

Andi : (Terdiam dan berkhayal sedang bersekolah dan bermain bersama teman-temannya)

Ayah : (Menepuk bahu Andi)

Andi : (Terkejut)

Ayah : Andi, Ayah percaya kelak kamu pasti bisa seperti mereka nanti.

Andi : Nanti itu kapan yah? (Dengan suara keras)

Ayah : Ada waktunya selama kamu punya kemauan.

Andi : Iya Ayah. Yasudah, Andi pulang dulu ya Yah.

Sepulang dari sawah, Andi bertemu dengan segerombolan orang yang membawa peralatan pertanian dengan arah berlawanan. Andi heran dan bertanya kepada salah satu warga.

Andi : Maaf Pak, warga itu mau pergi kemana ya? (Sambil terkaget karena mereka juga membawa alat tulis)

Pak Ilham: Mereka itu mau pergi ke sekolah.

Dalam rombongan itu ada seorang teman Andi bernama Taufik.

Taufik : Andi, ayo ikut ke sekolah!

Andi : Tidak ah, aku kan gak punya uang untuk membayar sekolah.

Taufik : Tidak apa-apa Andi. Kami pun juga tidak memiliki uang.

Taufik mengajak Andi pergi ke sekolah secara bersama-sama saat itu juga. Setibanya di sekolah, Taufik menjelaskan kepada Andi.

Taufik : Andi, sekolah ini adalah sekolah terbuka untuk semua siswa tanpa batasan umur. Sekolah ini juga layak seperti sekolah umum. Semua biaya disini gratis dan akan mendapat alat tulis tanpa harus membayar. Siswa yang lulus juga akan memperoleh sertifikat.

Andi : Oh begitu ya. Kalau ikut sekolah gratis ini pasti aku bisa mencapai ciat-citaku nanti.

3 Tahun kemudian, Andi sudah lulus dari sekolah terbuka. Lalu ia melanjutkan pendidikan di bangku kuliah. Sejak saat itulah impiannya untuk bersekolah akhirnya tercapai.

Contoh Naskah Film Pendek Keluarga

Judul : Keluarga Kecil Mentariku

Tokoh :

  1. Dea
  2. Ayah Dea
  3. Geri
  4. Windy
  5. Deta

Tokoh Tambahan :

  1. Lala
  2. Korban

Sinopsis :

Film ini bercerita tentang kehidupan keluarga yang mengalami keterpurukan ekonomi. Dea adalah seorang remaja yang memiliki tanggung jawab besar terhadap keluarganya. Sejak ibunya meninggal dunia. Dea harus merawat dua adiknya.

Ayah Dea juga dipecat dari perusahaan tempat sang ayah bekerja sudah sejak 3 bulan lalu. Sejak saat itulah Dea harus memutar otak agar bisa mencukupi kebutuhan keluarganya. Kondisi tersebut diperparah dengan ayahnya yang sakit.

Dalam kondisi yang serba kekurangan, Dea tidak pernah menyalahkan Tuhan dan menganggap ini adalah ujian agar ia lebih kuat dan tegar menjalani hidup. Tetapi suatu ketika Dea akhirnya terjun ke dunia kriminal akibat himpitan ekonomi.

Akibat keputusan Dea tersebut, justru mengundang masalah baru bagi keluarga Dea. Ujian kehidupan yang dialami Dea,pasti akan berlalu karena Tuhan memberikan ujian tidak melebihi kemampuan hamba-Nya. Dea sempat salah menyikapi ujian tersebut tetapi setelah ujian pasti akan ada kebahagiaan.

Naskah :

INT. Rumah Dea pada siang hari

Ayah Dea terlihat sedang terbaring karena sakit. Kondisi tersebut membuat Dea tak tega meninggalkan ayahnya di rumah sehingga Dea memutuskan tidak jadi berangkat ke sekolah.

Dea : Lala, Geri…Tolong kalian jagain ayah sebentar ya. Kakak mau membeli makanan untuk kita  (sambil mengompres kepala sang ayah)

Lala : Iya Kak, tapi Kakak jangan lama-lama ya…

Geri : Iya Kak, tapi Kakak tidak masuk sekolah?

Dea : Iya dek. Kakak tidak lama kok. Hari ini kakak tidak masuk sekolah dulu karena ingin menjaga ayah di rumah (sambil tersenyum dan beranjak meninggalkan kamar)

EXT. Depan rumah Dea pada siang hari

Tiba-tiba Geri mengejar Dea sambil membawa surat dari sekolahnya

Geri : Kak tunggu…Ini Kak ada surat dari sekolah. Tadi aku lupa mau memberikan ke Kakak. Kata bu guru, uang SPP harus segera dilunasi karena sebentar lagi ujian Kak. Kalau tidak membayar nanti aku tidak bisa ikut ujian. Aku tidak tega memberikan surat ini ke Ayah.

Dea : (Sambil pura-pura tersenyum ke Geri) Tenang aja dek. Kamu tidak usah khawatir. Nanti       Kakak carikan uang agar kamu tetap bisa mengikuti ujian. Kamu tetap belajar yang rajin ya tidak        usah memikirkan masalah biaya.

Geri : Beneran Kak? Aku masuk dulu ya Kak (tersenyum bersemangat).

Dea : Iya Dek (sambil melihat dan berjalan keluar rumah)

EXT. Di sebuah jalan saat siang hari

Pada suatu siang yang terik, Dea berjalan dengan tatapan kosong. Dea masih terus berpikir cara mendapatkan uang untuk membayar SPP Geri.

Dea : Ya Allah, saya harus mencari uang kemana lagi? (dengan wajah memelas sambil melihat ke langit)

Saat itu Dea melihat Deta dan Windy yang duduk santai sambil membuka dompet yang berisi banyak uang.

Windy : Dea…

Dea : Iya Win, ada apa? (mendekati Windy)

Deta : Kamu kenapa Dea kok wajahmu terlihat kusut?

Dea : Tidak apa-apa kok Det (sambil tersenyum).

Windy : De, tidak perlu sungkan sama kita. Aku tahu kamu lagi butuh uang kan? Ini aku ada sedikit uang. Ambil saja untuk keperluanmu.

Deta : Ini juga ada sedikit uang untuk kamu De.

Dea : Ini kalian beneran? Ya Ampun, terimakasih ya (wajah terharu)

Windy : Kalau kamu butuh uang banyak, ikut kerja saja sama aku, gimana ?

Dea : Nanti aku pikirkan lagi ya ( sambil berjalan meninggalkan Deta dan Windy)

EXT. Teras rumah Dea pada sore hari

Dalam hati Dea berkata “ harus cari uang yang banyak agar bisa membiayai sekolah Lala dan      Geri. Tiba-tiba Dea teringat perkataan Windy yang mengajaknya untuk bekerja.

Dea : Wiinn…(nada keras)

Windy : (Menengok dan mendekati Dea) Ada apa De?

Dea : Kerja yang kamu tawarkan kemarin jadi apa ya? Aku masih boleh ikut?

Windy : Boleh De dengan senang hati. Kerjanya jadi pencopet.

Dea : Hah? Jadi pencopet? Itu kan dosa besar!

Windy : Hari gini mikirin dosa De. Kita harus lebih memikirkan kebutuhan, kalau dosa pikir belakangan saja. Kamu lagi butuh uang kan?

Dea : Iya juga sih Win.

Windy : Tidak usah bingung. Besok kamu ikut aku saja.

Dea : Yaudah deh aku coba.

Dea dan Windy tidak tahu bahwa Geri sudah mendengar percakapan mereka di dekat pintu.

EXT Di sebuah jalan saat sore hari

Sore hari jalan terlihat sepi dan hanya ada seorang perempuan yang berjalan sepulang kuliah. Perempuan itu terlihat polos dan ternyata menjadi target yang mudah bagi Windy dan teman-teman.

Windy : Itu ada target, ayo gerak !

Kemudian Windy, Dea dan Deta berbisik saling membagi tugas. Kemudian mereka berpura-pura seolah sedang berjalan sambil bercanda lalu menabrak perempuan tersebut hingga bukunya terjatuh.

Dea : Maaf mbak saya tidak sengaja.

Windy : (Membereskan buku si korban)

Seketika itu Deta lalu datang dan segera merogoh tas si korban yang terlihat terbuka tanpa sepengetahuan si korban. Sesudah dompet dan handphone berhasil diambil oleh Deta, mereka bertiga segera pergi meninggalkan korban.

EXT. Sebuah taman komplek saat sore menjelang malam

Deta dan Windy terlihat sedang menghitung uang dari dompet korban sambil memegang handphone mahal si korban. Tetapi Dea justru tampak murung dan menyesal.

Deta : Setelah mengajak Dea, kita dapat untung lebih besar. Hanya dalam beberapa menit kita bisa mendapat banyak uang.

Windy : De, kamu kenapa? Sudah tenang saja tidak usah mikirin uang lagi. Penghasilan kita hari ini semuanya buat kamu saja.

Dea : Buat aku semuanya? (kaget)

Windy : Iya, sudah pulang dulu sana.

Dea : Yaudah aku pulang dulu. Terimakasih ya.

Ternyata Geri sudah mengawasi kakaknya. Hal ini membuat Geri marah dan memukul pohon.

INT. Ruang tamu Dea saat malam hari

Geri sudah menceritakan semua perbuatan Dea kepada ayahnya. Geri, Lala dan Ayah duduk di ruang tamu menunggu Dea pulang.

Dea : Assalamualaikum. Kakak pulang…

Ayah : Sini kamu duduk De. (dengan wajah kesal dan menahan sakit)

Dea : Ada apa Ayah? (wajah bingung). Geri, ini uang SPPnya buat kamu agar kamu bisa ikut ujian.

Ayah : Lala,main di kamar dulu ya nak.

Lala : Iya Ayah

Geri : Geri tidak mau menerima uang ini Kak. Seharusnya Kakak tidak perlu seperti itu (nada kesal)

Ayah : Ayah kecewa sama kamu De. Geri saja tahu mana yang baik dan yang tidak.

Dea : Maksud Ayah apa? Dea berusaha membantu adik-adik.

Ayah : Sudah Dea, lebih baik Geri tidak ikut ujian dan kita kelaparan daripada kamu harus berbuat tercela. Kembalikan barang-barang itu ke pemiliknya.

Dea : Tapi yah…(sambil menangis dan mulai menyadari kesalahannya)

Ayah : Kamu tidak usah memikirkan kebutuhan kita, Ayah mendapat panggilan kerja. Maafkan Ayah yang sudah menjadi pengangguran hingga kamu harus menjadi tulang punggung. Jangan mengulangi perbuatan bodoh itu lagi. Itu berdosa besar.

EXT. Di sebuah jalan saat sore hari

Saat masih memakai seragam sepulang sekolah, Dea menunggu korban yang pernah ia jahati. Dea berencana mengembalikan barang-barang milik korban.

Dea : Maaf mbak, saya ingin mengembalikan ini ke mbak. Ini punya mbak kan? (menyodorkan dompet dan handphone)

Korban : Kenapa kamu kembalikan? Bukankah kamu lebih membutuhkannya? (tersenyum)

Dea : Maafkan saya mbak. Saya salah sudah berbuat jahat kepada mbak.

Korban : Saya sudah ikhlas dan tidak mempermasalahkannya. Saya tahu mungkin kamu lebih membutuhkannya. Tapi saya terima maaf darimu.

Dea : Terima kasih ya mbak. Tolong terima barang-barang ini.

Contoh Naskah Film Pendek Komedi

Judul : Film 18 Tahun ke Atas

Tokoh :

  1. Hendrik
  2. Nurdiansyah
  3.  Hadi

Sinopsis : Hendrik, Hadi dan Nurdiansyah adalah sahabat dekat yang sering berkumpul bersama. Suatu hari Hendrik mengajak Hadi dan Nurdiansyah untuk menjadi youtuber dengan membuat film 18 tahun ke atas tetapi akhirnya mereka memutuskan untuk membuat film pendek lucu.

Saat syuting dimulai, ketiga saling berbagai tugas masing-masing. Memulai proses syuting justru keanehan mulai terjadi pada mereka hingga kelucuan pun terjadi.

Segmen 1 :

Nurdiansyah dan Had, bersantai di depan rumah sambil mengobrol. Tiba-tiba telepon Hadi berdering.

Hadi : Hallo…(sambil mengangkat telepon)

Hendrik : Halo, kamu dimana Had?

Hadi : Biasa Hen, aku lagi di masjid ini.

Hendrik : Sok jadi anak soleh kamu Had. Aku serius ini. Penting! Kamu dimana sekarang?

Hadi : Sedang di rumah ini sama Nur. Kamu sok urgen seperti ambulance saja.

Hendrik : Yaudah aku ke sana sekarang ya (mematikan telepon)

Nurdiansyah : Ada apa Hendrik telepon Had?

Hadi : Katanya sih mau main kesini.

Hendrik tiba di rumah Hadi untuk bertemu dengan Hadi dan Nurdiansyah

Hendrik : Halo Nur, Had. Aku punya ide brilian nih.

Hadi : Ide apa Hend?

Nurdiansyah : Wah mantap nih.

Hendrik : Ini ide mantap dan mengguncang dunia. (Hadi dan Nur tertawa terbahak-bahak)

Hendrik : Aku mau mengajak kalian jadi Youtuber.

Nurdiansyah : Youtuber? Emang gampang apa?

Hadi : Si Hendrik ada-ada saja. Emang kamu sudah punya konten?

Hendrik : Belum. Kita buat film saja gimana?

Hadi : Buat film 18 tahun ke atas saja Hen, pasti nanti banyak yang nonton.

Nurdiansyah : Wah kamu parah Had. Jangan mikir mesum terus. Lagi pula kamu Hen, buat film itu tidak gampang. Butuh peralatan tapi kita tidak punya.

Hendrik : Kita buat film pendek yang lucu aja seperti film komedi.

Hadi: Tidak…Tidak..Susah buat film seperti itu. Bagaimana kalau kita membuat tutorial aja. BIar kita seperti suhu yang serba tahu.

Nurdiansyah : Pesimis kamu Had. Bikin film lucu-lucuan susahnya dimana sih? Lagi pula kamu Hen, harus tahu diri karena kita masih serba terbatas. Mana kameranya? Siapa yang jadi cewek cantiknya? Mana ininya? Mana itunya?

Hendrik : Aku yang punya ide kenapa kalian yang menyalahkan aku? Benar-benar tidak asik kalian nih. Ayo mulai aja buat filmnya. Sudah tidak sabar nih. Hadi jadi kameramen, Nur jadi bagian action-action ya.

Segmen 2 :

Mulai syuting

Hendrik : Hallo guys, berjumpa lagi dengan saya…

Nurdiansyah : Cut..cut..cut, ah kamu Hen. Kok sudah mulai hallo guys hallo guys saja. Tunggu dulu aba-aba dari aku. Baru kamu mulai berbicara.

Hendrik : Oh iya maaf, aku terlalu bersemangat. Ayo ulangi lagi.

Nurdiansyah : Kamera…action…!

Hendrik : Hallo guys, berjumpa lagi dengan saya…

Hadi : Stop…stop..stop..potong dulu. Nur, roll nya mana. Harusnya setelah kamera kamu bilang rol…action.

Hendrik : Dasar kamu Nur!

Nurdiansyah : Maaf-maaf, aku terlalu bersemangat. Kamera…roll..action!

Hendrik : Hallo guys, berjumpa lagi dengan saya di channel tutorial cara memakai hijab anti badai.

Hadi : Apa-apaan ini? Kok ada hijab segala. Kamu kan cowok Hen, masa buat tutorial pakai hijab.

Nurdiansyah : Kamu aneh Hen. Aku jadi takut berteman sama kamu.

Hadi : Memang aku cowok apaan?

Hendrik : Iya maaf. Ulang…ulang!

Nurdiansyah : Kamera…roll..action!

Hadi : Sebentar, kameranya belum aku star !

Nurdiansyah : Dasar kamu Had. Ku tabok juga nih.

Akhirnya syuting pun menjadi berantakan.

Contoh Naskah Film Pendek Motivasi

Judul : Lima Nol-Nol

Tokoh :

  1. Budi : pelajar SD, jujur, lugu, periang, anak tukang parkir
  2. Pak Kardi : Tukang parkir, ayah Budi, pekerja keras, jujur, ulet
  3. Tukang Parkir : Tidak jujur, keras dan tidak bertanggung jawab
  4. Penjual Buku : sederhana, bijaksana

Sinopsis :

Budi sudah dua kali melihat Ayahnya membayar uang parkir motor pada lokasi yang berbeda sebesar Rp 1000. Seharusnya tarif parkir adalah Rp 500 tetapi tidak juga diberi kembalian. Budi pernah mencoba meminta kembalian sampai ia mengancam akan melaporkan tukang parkir kepada KPK.

Budi berpikir bahwa tukang parkir banyak yang berlaku tidak jujur begitu juga dengan ayahnya. Akhirnya Budi tahu, ayahnya merupakan tukang parkir yang jujur dan ia merasa bangga menjadi anak seorang tukang parkir.

Naskah :

EXT. Di teras rumah Pak Kardi  pada siang hari

Terlihat Budi sepulang sekolah melepas sepatunya sambil membaca koran yang ada di atas meja. Koran tersebut berisi berita mengenai KPK.

EXT. Depan toko bangunan pada sore hari

Tampak Pak Kardi sedang keluar dari toko bangunan lalu bunyi peluit tukang parkir terdengar. Pak Kardi meminta Budi membawakan barang bawaannya.

Pak Kardi : Ayo Budi!

Budi : Baik Pak (terdengar suara peluit kemudian Pak Kardi memberikan selembar uang Rp.1000 kepada tukang parkir. Tukang parkir tidak memberikan kembalian hingga akhirnya Pak Kardi bergegas pergi menggunakan motornya. Budi melihat ayahnya yang tidak mendapat uang kembalian parkir)

Pak Kardi : Ayo Budi!

Budi : Yah, uang parkir tadi kenapa tidak mendapat kembalian?

Pak Kardi : Sudah tidak apa-apa. Ayo !

Budi : Tapi tukang parkir itu tidak jujur Yah. Parkir hanya Rp 500 bukan Rp 1000.

Pak Kardi : Sudah…sudah. Kamu ini masih kecil belum tahu apa-apa.

EXT. Depan rumah Pak Kardi pada sore hari

Pak Kardi sedang membersihkan motornya kemudian Budi keluar dari dalam rumah dan menghampiri ayahnya.

Budi : KPK itu siapa Yah? Kepala daerah kok banyak yang ditangkap.

Pak Kardi : KPK itu aparat negara, kepala daerah yang ditangkap itu karena mereka menggunakan uang rakyat yang bukan haknya.

Budi : Berarti tukang parkir kemarin juga menggunakan bukan haknya. Apa perlu kita laporkan ke KPK Yah?

Pak Kardi : (tertawa) Kamu tahu apa soal KPK. Sudah mandi sana keburu sore nanti.

Budi : Baik Yah.

EXT. Depan Toko Buku pada sore hari

Pak Kardi dan Budi keluar dari toko buku sambil mengambil uang dari sakunya tapi tidak menemukan uang receh.

Pak Kardi : Budi, ada uang receh lima ratusan?

Budi : Adanya seribu rupiah Yah.

Pak Kardi : Yaudah itu saja seadanya untuk bayar parkir.

Budi : Paling tidak dikasih kembalian lagi

Setelah membayar parkir, Pak Kardi mengajak Budi pergi namun Budi hanya terdiam.

Budi : Pak, kembaliannya mana? (sambil menyodorkan tangannya ke tukang parkir)

Tukang Parkir : Tidak ada kembaliannya, ini uangnya besar semua.

Budi : Beneran Pak? Jangan berbohong ya…

Tukang Parkir : Kalau tidak percaya lihat sendiri ini,

Budi : Lha terus bagaimana?

Pak Kardi: Sudah Budi, ayo kita pulang saja.

Budi : Sebentar Yah, tukang parkir ini tidak jujur. Mau saya laporkan ke KPK saja.

Tukang Parkir : (mendengar perkataan Budi). Maksud kamu apa bicara seperti itu?

Pak Kardi : Sudah Pak sudah…Seharusnya saya yang protes karena tidak diberi uang kembalian parkir.

Penjual Buku : (mendekati Pak Kardi) Ada apa pak? Saya perhatikan kok ada keributan.

Budi : Ini Pak, uang parkir ayah saya tidak diberi kembalian oleh tukang parkir.

Penjual Buku : Oh begitu ya, maaf ya Pak Parkir. Bukannya saya mau ikut campur tapi lebih baik jangan mengambil yang bukan hak kita. Tidak bagus bertindak korupsi.

Tukang parkir mengangguk dan mendengarkan penjelasan penjual buku.

Pak Kardi : Terima kasih pak atas penjelasannya. Saya pamit dulu.

EXT. Teras rumah Pak Kardi pada sore hari

Budi sedang belajar dan Pak Kardi sedang membersihkan motornya.

Pak Kardi : Ada PR ya Bud? Kok serius sekali.

Budi : Iya Yah. PR Matematika besok harus dikumpulkan.

Budi : Budi mau minta maaf, gara-gara Budi ayah jadi bertengkar dengan tukang parkir.

Pak Kardi : Tidak apa-apa Bud (mengusap kepala Budi)

Budi : Apa semua tukang parkir seperti itu Yah?

Pak Kardi : Bud, tidak semua tukang parkir itu tidak jujur. Seperti ayahmu ini yang berusaha tidak mengambil hak orang lain meskipun hanya seorang tukang parkir.

Budi : Budi tahu kok, kalau ayah pekerjaannya berat.

Pak Kardi : Makanya nanti kamu harus jadi orang yang jujur agar dipercaya banyak orang.

Budi : Tapi Budi bangga jadi anak tukang parkir yang jujur jadi tidak takut ditangkap KPK.

Pak Kardi : Budi..Budi (sambil tersenyum).

Sekian, contoh naskah film pendek yang coba dijabarkan di atas, dapat menjadi pembelajaran terutama untuk konten kreator ataupun Youtuber Indonesia untuk memulai debutnya.

Wahyu Blahe
Wahyu Blahe Guru SEO, Digitalpreneur, Public Speaker, Konsultan Digital Marketing, Blogger Medan | WA: 085261199133