Arti, Makna, dan Sejarah Garuda Pancasila

Garuda Pancasila

Garuda Pancasila sebagai lambang negara juga sudah diresmikan melalui Peraturan Pemerintah No. 66 tahun 1951. Di dalam lambang negara burung Garuda terdapat makna filosofis yang kuat dalam hidup bernegara.

Indonesia sendiri memilih burung Garuda Pancasila dengan bentuk serupa rajawali sebagai lambang dari negara. Burung dengan kepala yang menoleh ke sisi kiri ini didesain oleh Sultan Hamid II dan dipilih sebagai lambang Indonesia.

Selain berbentuk lambang negara Indonesia, burung Garuda Pancasila juga dibuat dalam bentuk lagu wajib nasional. Lagu ini mungkin sudah sangat sering diperdengarkan saat hari kemerdekaan ataupun saat upacara bendera di sekolah. Sebagai warga negara yang baik, sudah seharusnya kita mengenal lagu ini.

Sejarah Garuda Pancasila

Pemilihan lambang negara burung Garuda telah melalui suatu proses yang terbilang cukup panjang. Dibandingkan dengan dasar negara Pancasila dan Undang-Undang Dasar (UUD) Tahun 1945, lambang negara burung Garuda dilahirkan beberapa tahun kemudian setelah kemerdekaan.

Buku karya Agus Sachari berjudul Budaya Visual Indonesia tahun 2007 menjelaskan bahwa gambar lambang negara belum didesain sama sekali ketika Pancasila dan UUD 1945 resmi diberlakukan di Indonesia.

Pembuatan lambang negara Republik Indonesia baru mendapat perhatian serius saat Konstitusi Republik Indonesia Serikat (KRIS) dan Republik Indonesia Serikat (RIS) dibentuk. Saat itu, keputusan untuk membuat lambang negara Indonesia dibuat dalam bentuk sayembara nasional.

Sebenarnya, usulan untuk memiliki lambang negara Indonesia dilakukan oleh Parada Harahap pada tanggal 13 Juli 1945. Parada Harahap sendiri merupakan anggota dari Panitia Perancang UUD. Meski begitu, usulan tersebut harus tertunda selama beberapa tahun pelaksanaannya karena kondisi politik.

Tahun 1947

Pemerintah Republik Indonesia sendiri sebenarnya sejak tanggal 16 November 1945 sudah membentuk panitia khusus yang membahas mengenai lambang negara Indonesia. Panitia yang diberi nama Panitia Indonesia Raya ini bertugas untuk menyelidiki arti secara simbologi, mitologi dan arkeologi burung Garuda.

Namun, karena adanya makar dan peristiwa politik genting pada tahun tersebut hingga tahun 1946, pekerjaan panitia menjadi tertunda. Baru di tahun 1947 pemerintah secara resmi mengadakan sayembara untuk mendesain lambang negara.

Beberapa organisasi yang diundang khusus untuk mengikuti sayembara adalah organisasi Pelukis Rakyat, KPP seksi kesenian, Seniman Muda Indonesia (SIM), dan PTPI. Sayangnya, selama kurang lebih tiga tahun, tidak ada satupun karya dari seniman ini yang lolos seleksi.

Pemerintah beralasan bahwa karya dari para seniman ini kurang mewakili makna lambang negara Garuda dilihat dari sisi mitologi, arkeologi, dan sebagainya.

Tahun 1949

Pemerintah Indonesia mengangkat Sultan Hamid II berdasarkan Keppres No. 2 Tahun 1949 sebagai Menteri Negara Zonder Porto Folio. Kementrian ini bertugas dalam merancang, merencanakan serta merumuskan lambang negara Indonesia.

Tahun 1950

Sultan Hamid II membentuk Panitia Lencana Negara yang bertugas dalam melakukan analisis dan seleksi terhadap berbagai usulan desain lambang negara melalui sayembara yang telah diselenggarakan sebelumnya. Pembentukan Panitia Lencana Negara dilakukan pada tanggal 10 Januari 1950.

Setelahnya pada tanggal 26 Januari 1950, Panitia Lencana Negara melalui sumbangan pemikiran dari Ki Hajar Dewantara yang kemudian didiskusikan bersama Mohammad Yamin selaku ketua, memutuskan bahwa ada dua rancangan lambang negara yang disepakati yakni milik Sultan Hamid II dan Moh Yamin.

Partai Masyumi kemudian memberi masukan terkait rancangan lambang negara yang diajukan ke presiden. Hal ini terkait dengan penggunaan gambar bahu dan tangan manusia yang disatukan dengan burung Garuda karena dianggap memiliki karakteristik mitologis.

Kemudian, Sultan Hamid II pun mengubah hasil rancangannya sesuai dengan usulan yang diajukan. Hasil akhir yang diajukan Sultan Hamid II adalah lambang negara berbentuk burung Garuda-Rajawali. Pada tanggal 15 Februari 1950, hasil rancangan lambang negara pun dibawa ke rapat parlemen RIS.

Dalam rapat parlemen RIS yang dilakukan di Hotel Des Indes, Jakarta, menetapkan bahwa lambang negara yang dirancang oleh Sultan Hamid II yang akan dipakai sebagai lambang negara resmi. Saat itu, gambar lambang burung Garuda Sultan Hamid II masih berupa burung dengan kepala yang gundul.

Penetapan burung Garuda rancangan Sultan Hamid II sebagai lambang negara ditetapkan melalui pasal 3 RIS. Sementara untuk rancangan burung Garuda milik Mohammad Yamin ditolak oleh Presiden Soekarno pada saat itu karena gambar tersebut berupa burung dengan setengah badan manusia.

Sejak tanggal 20 Februari 1950, rancangan gambar burung Garuda milik Sultan Hamid II telah resmi digunakan di ruang Sidang Parlemen RIS. Presiden Soekarno lantas memberi saran agar kepala burung diberi jambul seperti burung rajawali agar tampak lebih alami.

Menindaklanjuti usulan Presiden Soekarno, Dullah dan Ruhl yang merupakan ahli semiologi Sultan Hamid II kemudian ditugaskan untuk menggambar ulang lambang negara berupa burung Garuda dengan jambul di kepala. Selain itu, cakar kaki burung juga diubah posisinya sehingga menghadap ke arah depan.

Tahun 1951

Pada tanggal 10 Juli 1951, rapat mengenai peraturan lambang negara Indonesia dilakukan oleh Dewan Menteri. Peraturan terkait lambang negara Indonesia kemudian tertera di dalam Undang-Undang Dasar Sementara 1950 pasal 3 terkait Lambang Negara.

Selanjutnya tepat pada hari kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 6, yaitu pada tanggal 17 Agustus 1951, penggunaan lambang negara yang telah disetujui oleh pemerintah disosialisasikan ke masyarakat luas. Gambar lambang negara kemudian disebarkan ke seluruh penjuru tanah air.

Dua bulan kemudian pada tanggal 17 Oktober 1951, Presiden dan Perdana Menteri saat itu yakni Sukiman Wirjosandjojo menetapkan peraturan terkait Lambang Negara Indonesia di dalam PP No. 66 Tahun 1951. Di dalam peraturan ini ditetapkan terkait perbandingan ukuran, warna serta bentuk lambang negara.

Pada tanggal 28 November 1951, melalui Menteri Kehakiman M Nasroen, peraturan terkait Lambang Negara lantas diundangkan di dalam Lembaran Negara tahun 1951 No. 111. Terkait penjelasannya dapat ditemukan di dokumen Tambahan Lembaran Negara Tahun 1951 No. 176.

Sejak diundangkannya peraturan terkait Lambang Negara di dalam PP No. 66 Tahun 1951, maka secara yuridis formal rancangan lambang negara telah diakui secara resmi sebagai lambang negara Republik Indonesia.

Makna Lambang Garuda Pancasila

Pemilihan Garuda Pancasila sebagai lambang negara Indonesia tidaklah sembarangan. Ada banyak hal yang dipertimbangkan ketika mendesain bentuk rupa burung Garuda seperti yang kita lihat saat ini. Aspek mitologis, keyakinan, dan bahasa menjadi pertimbangan saat mendesain Garuda sebagai lambang negara.

Usaha yang semaksimal mungkin dikeluarkan saat mendesain burung Garuda dikarenakan para pendiri negara menginginkan agar lambang negara tidak sekedar lambang, melainkan memiliki makna yang mendalam.

Berikut makna lambang Garuda Pancasila dilihat dari perisai, dan bagian tubuh Garuda.

1. Pemilihan burung Garuda Pancasila sebagai lambang negara dikarenakan burung ini melambangkan kekuatan dan keperkasaan. Burung Garuda sendiri merupakan burung mitos yang berasal dari mitologi kuno keyakinan agama Hindu.

Penggunaan lambang burung Garuda sebagai lambang negara diharapkan bahwa Indonesia dapat berkembang menjadi negara yang kuat dan besar.

2. Burung Garuda didesain dengan warna emas yang melapisi seluruh badan burung. Pemilihan warna emas dikarenakan warna ini melambangkan kejayaan dan juga keagungan. Diharapkan Indonesia dapat terus bertumbuh menjadi negara yang jaya dan agung.

3. Desain sayap, paruh, cakar dan ekor yang besa dan kokoh akan melambangkan kekuatan dan tenaga yang besar dalam membangun negeri.

4. Lambang burung Garuda Pancasila juga menunjukkan tanggal kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Penunjukan tanggal kemerdekaan ini bisa dilihat dari sayap, ekor, perisai dan jumlah bulu pada leher.

  • Jumlah bulu yang ada di sayap burung Garuda berjumlah 17 helai yang menunjukkan tanggal kemerdekaan Indonesia
  • Bulan Agustus dilambangkan melalui jumlah helai bulu di ekor yang berjumlah 8 buah
  • Jumlah helai bulu yang ada di pangkal ekor atau di bawah perisai sebesar 19 helai yang melambangkan tahun kemerdekaan
  • Jumlah helai bulu pada leher burung Garuda sebanyak 45 helai yang melambangkan tahun kemerdekaan

5. Pada bagian kaki burung Garuda mencengkram sebuah pita putih dengan tulisan “Bhinneka Tunggal Ika”. Ungkapan “Bhinneka Tunggal Ika” diambil dari buku Sutasoma yang dikarang oleh Empu Tantular. Makna semboyan ini adalah meski berbeda-beda tetapi tetap satu jua.

Semboyan ini menjadi semboyan bangsa Indonesia dalam bernegara yakni meski bangsa Indonesia terdiri dari berbagai agama, suku bangsa, budaya dan kesenian yang berbeda, kita tetaplah satu bangsa dengan satu bahasa, satu tanah air dan satu tumpah darah Indonesia.

6. Pada bagian perisai burung Garuda Pancasila terdapat garis hitam tebal yang digambar tepat di tengah-tengah perisai. Garis tebal ini merupakan simbol dari garis khatulistiwa yang melewati Indonesia. Indonesia sendiri merupakan salah satu negara tropis yang dilewati oleh garis khatulistiwa.

7. Pemilihan perisai sebagai wadah tempat digambarnya simbol Pancasila karena perisai sendiri merupakan senjata tradisional Indonesia yang sudah lama digunakan sebagai alat pertahanan atau tameng saat berperang. Perisai sendiri merupakan simbol dari perlindungan, pertahanan dan perjuangan.

8. Warna dasar yang dipakai di ruang perisai menggunakan warna merah putih yang merupakan warna bendera Indonesia. Di bagian tengah ruang perisai menggunakan warna dasar hitam sebagai tempat diletakkannya simbol Pancasila sila pertama.

9. Di dalam perisai terdapat ruang yang dibagi sebanyak 5 ruangan sebagai tempat diletakkannya simbol kelima sila Pancasila.

5 makna simbol pada dada burung Garuda Pancasila dijelaskan berikut ini:

1) Lambang Bintang

Lambang bintang terletak di bagian tengah perisai melambangkan sila pertama Pancasila yang berbunyi “Ketuhanan yang Maha Esa”. Pemilihan lambang bintang sebagai sila pertama dikarenakan bintang diibaratkan sebagai cahaya, yakni cahaya kebaikan dan rahmat yang diberikan dari Tuhan yang Maha Esa.

Sementara latar hitam di bagian belakang bintang mengilustrasikan warna alam. Sehingga diibaratkan cahaya tersebut menyinari seluruh alam kehidupan.

2) Lambang Rantai Emas

Lambang rantai emas terletak di bagian kanan bawah perisai burung Garuda Pancasila dan melambangkan sila kedua yang berbunyi “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab”. Bentuk mata rantai emas adalah lingkaran dan persegi yang saling terkait.

Bentuk lingkaran menyimbolkan wanita sementara bentuk persegi empat menyimbolkan laki-laki. Mata rantai persegi empat dan lingkaran yang saling terkait menyimbolkan bahwa antara perempuan dan laki-laki harus terbentuk hubungan harmonis dan bekerja sama agar dapat menguatkan satu sama lainnya.

3) Lambang Pohon Beringin

Lambang pohon beringin terletak di bagian kanan atas perisai burung Garuda dan melambangkan sila ketiga yang berbunyi “Persatuan Indonesia”. Pohon beringin dipilih karena pohon ini menyimbolkan kekuatan dan kesuburan serta persatuan yang sangat kokoh.

Setiap akar-akar pohon beringin akan tumbuh semakin besar dan menghujam ke bawah dengn kokoh. Hal ini membuat pohon beringin sangat susah untuk ditumbangkan. Oleh karena itu diharapkan bangsa Indonesia menjadi bangsa yang sangat kuat dengan saling bersatu.

Meski bangsa Indonesia terdiri dari beragam agama, suku, bahasa, warna kulit dan budaya, bangsa Indonesia tetaplah satu bangsa, satu negara dan memiliki bahasa pemersatu yang sama yakni bahasa Indonesia. Keanekaragaman budaya, suku dan agama digambarkan melalui sulur-sulur pohon beringin.

Sementara akar tunggang pohon beringin yang sangat kuat menyimbolkan kekuatan persatuan bangsa.

4) Lambang Kepala Banteng

Lambang kepala banteng terletak di bagian kiri atas perisai burung Garuda Pancasila dan melambangkan sila keempat yang berbunyi “Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan.”

Pemilihan banteng sebagai simbol sila keempat dikarenakan sifat alamiah banteng sebagai hewan sosial yang selalu hidup bergerombol dalam kawanannya. Setiap banteng saling menjaga banteng lainnya satu sama lain. Sifat mereka yang selalu hidup bergerombol inilah yang membuat banteng sulit ditaklukkan.

Penggunaan kepala banteng diharapkan agar bangsa Indonesia memiliki sifat senang untuk bermusyawarah agar mencapai mufakat. Selain itu, diharapkan juga agar saat bermufakat untuk menggapai keputusan kita dapat melakukannya secara tegas dan mantab tanpa keraguan.

5) Lambang Padi dan Kapas

Lambang padi dan kapas terletak di bagian kiri bawah perisai burung garuda dan melambangkan sila kelima Pancasila yang berbunyi “Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia”. Pemilihan padi dan kapas dikarenakan kedua benda ini adalah kebutuhan pokok utama bagi manusia dan simbol kemakmuran.

Padi adalah bahan pokok utama masyarakat Indonesia. Padi akan diolah menjadi beras yang merupakan kebutuhan utama semua orang. Sehingga, penggunaan lambang padi pada Pancasila menyimbolkan terpenuhinya seluruh kebutuhan pokok masyarakat secara adil dan merata.

Sementara kapas adalah simbol dari pakaian atau sandang. Sandang sendiri merupakan kebutuhan primer masyarakat karena berkaitan dengan tercapainya hidup yang layak dan nyaman. Semua ini adalah indikator kesejahteraan bangsa dan diharapkan agar Indonesia menjadi bangsa yang makmur sejahtera.

Lirik Lagu Garuda Pancasila

Sebagai salah satu lagu wajib nasional, sudah sewajarnya setiap anak bangsa menghapal dan dapat memaknai maksud dari teks lagu Garuda Pancasila. Lagu ini sendiri memiliki tempo yang bersemangat untuk menggelorakan jiwa perjuangan setiap anak bangsa Indonesia.

Berikut lirik lagunya:

Garuda Pancasila, Akulah Pendukungmu
Patriot Proklamasi, Sedia Berkorban Untukmu
Pancasila Dasar Negara, Rakyat Adil Makmur Sentosa
Pribadi Bangsaku
Ayo Maju Maju, Ayo Maju Maju, Ayo Maju Maju

Pencipta Lagu Garuda Pancasila

Lagu Garuda Pancasila diciptakan oleh Sudharnoto pada tahun 1956. Sudharnoto sendiri adalah seniman yang lahir pada tanggal 24 Oktober 1925. Sudharnoto adalah seorang seniman pecinta musik yang merupakan anggota dari Lekra atau Lembaga Kebudayaan Rakyat.

Kecintaan Sudharnoto terhadap dunia seni musik berasal dari keluarganya yang juga merupakan pecinta musik. Meski merupakan lulusan dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, ternyata kecintaan terhadap musiklah yang dipilih oleh Sudharnoto sebagai jalan karirnya.

Sudharnoto terlahir dari ayah seorang dokter pribadi Mangku Negara VII dari Surakarta. Meski berprofesi sebagai seorang dokter, ayah beliau memiliki kecintaan yang sangat mendalam terhadap dunia seni musik terutama instrumen musik biola, gitar, dan juga seruling.

Ibu Sudharnoto sendiri juga piawai dalam memainkan instrumen musik akordeon. Melihat kedua orangtuanya yang sangat menggemari musik, kecintaan Sudharnoto terhadap musik pun terlahir. Sudharnoto sendiri memantapkan kepiawaiannya dalam memainkan musik dengan belajar dari seniman.

Ia berguru kepada sejumlah seniman besar pada masanya seperti Soetedjo, Jos Cleber, R.A.J Soedjasmin dan juga Daljono. Pada Jos Cleber, Sudharnoto belajar memainkan piano, not balok serta aransemen musik. Sudharnoto belajar menggubah lagu anak pada Pak Dal yang memiliki nama asli Daljono.

Sudharnoto juga aktif belajar seni musik langsung kepada dua pimpinan orchestra terkenal pada saat itu yakni Soetedjo dan juga Soedjasmin yang merupakan orkes dari Angkatan Kepolisian RI. Banyaknya tempat ia berguru musik membuat kepiawaian Sardjono di dunia seni musik semakin tinggi.

Mengenai guru tempat Sudharnoto menimba keterampilan musik dapat dibaca pada buku karangan Wildan Bayudi berjudul Lagu Wajib Nasional terbitan tahun 2019.

Selama perjalanan karir Sudharnoto, ia telah beberapa kali memainkan musik baik di acara-acara resmi, radio ataupun pengisi musik di café dan restoran ternama. Ia pernah menjadi pengisi resmi siaran Radio Republik Indonesia (RRI) di Solo bersama dengan Orkes Hawaiian Indonesia Muda yang dipimpin Maladi.

Setelahnya, Sudharnoto menjadi kepala khusus seksi musik di RRI cabang Jakarta pada tahun 1952 dan sekaligus pernah mengisi acara Hammond Organ Sudharnoto. Selama perjalanan karir bermusiknya, Sudharnoto juga pernah mendirikan kelompok khusus penyanyi istana.

Kelompok yang diberi nama Ensambel Gembira ini terdiri dari sejumlah seniman musik ternama seperti Titi Soebronto K. Atmojo dan juga Bintang Suradi. Ansambel ini didirikan pada tanggal 3 Februari 1952 oleh Sudharnoto dan merupakan ansambel tertua yang ada di Indonesia.

Grup ansambel milik Sudharnoto sangat aktif mengisi acara di istana negara dan juga di berbagai acara yang melibatkan delegasi asing. Namun, pasca tragedi tahun 1965, hampir semua dari anggota Lekra ditahan bahkan ada yang sampai dibunuh tanpa diadili di pengadilan resmi terlebih dahulu.

Beberapa dari anggota Lekra lainnya juga ditangkap dan ditahan di penjara. Sudharnoto menjadi salah satu orang yang turut ditangkap dan ditahan di penjara tanpa melalui pengadilan resmi. Saat itu Sudharnoto ditahan di Rumah Tahanan Salemba.

Akibat dari penangkapan dan penjeblosan ke penjara ini, Sudharnoto pun turut diberhentikan dari pekerjaannya sebagai kepala seksi musik di RRI. Sekeluarnya Sudharnoto dari penjara, ia pun kemudian bekerja serabutan dengan menjadi supir taksi, penyalur es serta supir untuk Bank Indonesia.

Namun, darah seorang seniman musik tetap mengalir dalam pembuluh darahnya sehingga pada tahun 1969, Sudharnoto pun kembali merintis karir sebagai seorang seniman musik. Ia memulai kembali karir bermusiknya dengan menjadi seorang pianis di hotel dan restoran mewah di Jakarta.

Selama masa hidupnya, Sudharnoto telah menciptakan berbagai karya lagu baik lagu wajib nasional dan lagu-lagu lainnya. Selain lagu Garuda Pancasila, Sudharnoto juga menciptakan lagu Dunia Milik Kita, Asia-Afrika Bersatu, Dari Barat Sampai ke Timur dan Bunga Sakura.

Pembuatan lagu Garuda Pancasila baik lirik dan juga nada-nadanya dibuat dengan sepenuh hati oleh Sudharnoto. Beliau tidak hanya ingin melahirkan lagu kebangsaan dengan nada yang semangat dan penuh gelora melainkan mengandung makna perjuangan dan kecintaan terhadap negara yang mendalam.

Lagu Dunia Milik Kita lebih berbicara mengenai cerita selama berada di balik penjara pengasingan akibat tragedi tahun 1965. Sementara lagu Dari Barat Sampai ke Timur dibuat oleh Sudharnoto sebagai lagu pembangkit semangat perjuangan melawan penjajahan.

Lagu ini pulalah yang berhasil menggerakkan gairah melakukan perlawanan dan revolusi pada masanya. Meski sempat disebut-sebut menjiplak lagu Marsaillaise, yakni lagu kebangsaan dari Prancis, namun Sudharnoto tidak mempermasalahkan hal tersebut.

Bagi seniman tersebut, hal terpenting adalah lagu yang diciptakannya berhasil menggelorakan gairah revolusi anak bangsa Indonesia. Selama masa karirnya, ia juga sempat beberapa kali memegang tanggung jawab menangani penataan musik.

Dari tahun 1958 sampai tahun 1965, ada sekitar 13 film yang ditangani penataan musiknya oleh Sudharnoto. Sudharnoto menutup usia pada tanggal 11 Januari 2020. Beliau dimakamkan di TPU Karet.

Not Lagu Garuda Pancasila

Lagu Mars Pancasila atau Garuda Pancasila diciptakan oleh Sudharnoto dengan birama 4/4. Berikut adalah not untuk memainkan dan menyanyikan salah satu lagu wajib nasional ini.

Ga ru da pan ca si la
5 5 1 1 2 2 3

A ku lah pen du kung mu
3 4 5 1 2 3 4 2

Pat ri ot prok la ma si
5 5 2 2 3 3 4

Se di a ber kor ban un tuk mu
3 2 1 5• 5• 5• 6• 7• 1

Pan ca si la da sar ne ga ra
1 1 1 6• 1 4 5 6 5

Rak yat a dil mak mur sen to sa
1 1 1 6• 1 4 5 6 5

Pri ba di bang sa ku
5 1° 5 4 3 2

A yo ma ju – ma ju
1 1 1 1 6• 5•

A yo ma ju – ma ju
1 1 1 1 2 3

A yo ma ju – maju
1 1 6 5 7• 1

*keterangan
•= nada rendah (turun satu oktaf)
°= nada tinggi (naik satu oktaf)

Chord Lagu Garuda Pancasila

A5 G#5 A5 E5
Garuda pancasila akulah pendukungmu

B5 A#5 B5 A5 E5 A5
Patriot proklamasi sedia berkorban untukmu

D5 A5
Pancasila dasar negara

D5 A5
Rakyat adil makmur sentosa

B5 E5
Pribadi bangsaku

A5 E5 D5 A5 E5 G#5 A5
Ayo maju maju ayo maju maju ayo maju maju

A G# A F#m-G-G#-F#m-G-G#
Garuda pancasila akulah pendukungmu

Bm A# Bm A E A
Patriot proklamasi sedia berkorban untukmu

D5 D-C#5-B5-A5
Pancasila dasar negara

D5 D-C#5-B5-A5
Rakyat adil makmur sentosa

B5 E5
Pribadi bangsaku

A5 E5 D5 A5 E5 G#5 A5 E5
Ayo maju maju ayo maju maju ayo maju maju

A5 E5 D5 A5 B5 E5 A5
Ayo maju maju ayo maju maju ayo maju maju

Makna Lagu Garuda Pancasila

Lagu Garuda Pancasila juga dikenal dengan nama Mars Pancasila dibuat untuk mengenalkan burung Garuda sebagai lambang negara kepada seluruh anak bangsa Indonesia. Selain itu, lagu ini juga dibuat untuk menumbuhkan semangat patriotisme dan semangat berjuang menentang penjajahan.

Garuda Pancasila, Akulah Pendukungmu

Lirik ini mengandung pengakuan sekaligus pernyataan kesetiaan dari anak bangsa Indonesia untuk mendukung burung Garuda Pancasila yang memang sudah diakui sejak kemerdekaan sebagai lambang negara Indonesia.

Patriot Proklamasi, Sedia Berkorban Untukmu

Pada lirik kedua ini mengandung makna bahwa setiap anak bangsa Indonesia telah siap jiwa dan raganya untuk berkorban demi kemakmuran dan keamanan Indonesia dari segala macam bentuk penjajahan dan pengkhianatan yang mengancam kedaulatan negara.

Pancasila Dasar Negara, Rakyat Adil Makmur Sentosa

Pada lirik ketiga ini berisi pengakuan bahwa dasar negara yang digunakan di Indonesia adalah Pancasila. Apabila nilai-nilai luhur Pancasila diterapkan dengan sebaik-baiknya, maka kesejahteraan dan kemakmuran bangsa akan diraih.

Namun, apabila dalam penyelenggaraan negara dan beraktivitas hidup jauh dari nilai-nilai Pancasila, maka kesengsaraan dan keburukan yang mungkin akan didapat oleh bangsa ini.

Pribadi Bangsaku

Makna dari lirik keempat merupakan pernyataan bahwa Pancasila yang dijadikan dasar negara diambil dari nilai-nilai luhur bangsa Indonesia dalam bertingkah laku. Nilai luhur yang dimaksud meliputi pengakuan terhadap keesaan Tuhan, keadilan, kemanusiaan, persatuan, dan musyawarah untuk mencapai mufakat.

Sehingga, sebagai bangsa kita sangat diharapkan untuk menginternalisasikan nilai-nilai kebaikan dari Pancasila ini dalam kehidupan baik itu penyelenggaraan negara maupun kehidupan bermasyarakat.

Ayo Maju Maju, Ayo Maju Maju, Ayo Maju Maju

Pada lirik yang terakhir berisi ajakan kepada seluruh bangsa dan warga negara Indonesia agar tetap semangat dan maju ke depan. Kita dituntut untuk terus bergerak maju dan jangan pantang menyerah agar cita-cita bangsa dapat diraih.

Para pahlawan bangsa hingga proklamator kita telah menunjukkan, bahwa kata menyerah tidak pernah ada di kamus para pejuang. Teruslah bergerak maju meski penghalang di depan terasa sangat berat dan nyata. Yakinlah bahwa suatu hari, bangsa ini akan meraih kemuliaan dan kebaikannya.

Sekian informasi mengenai tulisan Garuda Pancasila, sebagai lambang negara Republik Indonesia.

Wahyu Blahe Guru SEO, Digitalpreneur, Public Speaker, Konsultan Digital Marketing, Blogger Medan | WA: 085261199133